JIKA perenang, pulang dari pemandian langsung keramas, itu wajar. Tapi Ny. Antini, 34, dari Surabaya ini kan tak pernah belajar berenang. Usut punya usut, istri Jazuli, 36, ini ternyata habis rekonsiliasi di hotel bersama PIL-nya. Tentu saja Jazuli tidak terima, sehingga memilih cerai ketimbang makan hati.

Lagi-lagi terbukti bahwa benggol dan bonggol harus berbanding lurus dalam sebuah rumahtangga. Jika hanya kuat di bonggol atau sebaliknya, pasti istri yang tidak terima. Masak sehari-hari hanya dapat jaminan nafkah batin, bukan nafkah lahir, ya bosen. Sebaliknya semua kebutuhan dipenuhi, tapi nafkah batin tak dicukupi, bini juga bisa kabur. Intinya urusan perut sangat perlu, tapi yang di bawah perut juga jangan ditelantarkan.

Nasib Ny. Antini dari Surabaya nyaris seperti itu. Dia menikah dengan Jazuli baru 2 tahun, itu pun karena dijodohkan. Antini sampai usia kepala tiga belum menikah, lalu dipertemukan dengan Jazuli yang yang juga perjaka tua. Ketimbang hardware-nya hanya buat kencing doang, akhirnya Jazuli menerima perjodohan ala Siti Nurbaya itu.

Tapi setahun jadi suami istri, pihak Antini mulai kecewa. Ternyata pekerjaan Jazuli tidak jelas, karena hanya menjadi pekerja PT Tempo. Bukan yang perusahaan obat itu, melainkan tempo tempo kerja, tempo-tempo nganggur. Jika ada teman ngajak ngobyek, ada pekerjaan. Jika tak ada obyekan, ya diam saja di rumah.

Istri dan meruta Jazuli lama-lama kesal juga. Punya mantu kok jadi Pangeran Panji Klantung alias pengangguran. Anak istrinya nanti mau dikasih makan apa? Untung Antini ada yang mengajak kerja, sehingga sekarang ada pemasukan bulanan meski tidak besar. Tapi setelah istri bekerja, kemalasan Jazuli jadi mentok gardan. Diajak ngobyek teman juga males. Ibarat kata, diam saja juga ada yang ngasih makan ini.

Mertua sering menyindir-nyindir, kucing saja tak melulu mengandalkan makanan catu dari majikan, masih suka korek-korek tempat sampah. Kadang nemu kepala ikan, atau tulang sisa ayam goreng. “Masak orang kalah sama kucing?” kata mertua. Jazuli hanya menunduk malu sekaligus dongkol, masak disamakan kucing. Yang bener saja, kucing kok “buntut”-nya di depan?

Tapi Jazuli hanya terhenti pada malu dan dongkol belaka, tanpa ada usaha cari terobosan untuk mengubah nasib. Bagaimana caranya agar tidak kalah sama istri. Di mana-mana suamilah yang jadi tulang punggung keluarga, istri di rumah saja tinggal mamah karo mlumah. Kok ini malah terbalik?

Sampailah pada hari-hari belakangan ini, Jazuli mendapatkan fakta, asal istrinya pulang kerja sekitar pukul 19.00 malam, langsung keramas. Begitu itu bisa seminggu 3 kali. Lama-lama Jazuli jadi curiga, apakah istrinya sekarang punya hobi renang? Ternyata tidak. Diapun terus mencari jawab, sampai kemudian dapat info, Antini memang sedang punya PIL.

Jazuli mencoba klarifikasi, tapi Antini malah gantian mengomeli suami. Jadi lelaki tak tanggungjawab, menikah hanya modal burung doang! Mau dikasih makan apa anak istri? “Kebutuhan rumahtangga makin banyak Mas, jadi jangan hanya di rumah saja. Pokoknya kerja, kerja, kerja……Mas.” kata Antini, seakan-akan suaminnya ini anggota kabinetnya Presiden Jokowi.

Tahu istrinya makin galak, dia minta tolong iparnya, Saerun, untuk menasihati kakaknya. Tapi si adik ipar tidak mau, karena itu bukan domainnya. Yang punya hak bertanya sampai interpelasi kan suami. Jadi tanyakan saja langsung pada pihak yang berkompeten. Masak begitu saja takut, kan sinetron “Suami takut istri” sudah lama selesai.

Akhirnya diberani-beranikan juga. Tapi jawab Antini sungguh di luar akal sehat. Justru suami diomeli habis-habisan. “Memang aku suka selingkuh sama PIL-ku, sampeyan mau apa? Ceraikan saja segera, biar urusan selesai.” Tantang Antini sambil berkacak pinggang. Dan karena sikap keras istrinya itulah, Jazuli benar-benar daftarkan perceraian ke Pengadilan Agama Surabaya. Nanti pembagian harta 55-45 persen lho ya. (Gunarso TS)

Facebook Comments
Loading...

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here